Militer AS Lakukan Uji Coba Pengiriman Kargo Cepat Menggunakan Roket
Amerika Serikat (AS) memimpin dunia dalam hal pengeluaran anggaran militer, yang memungkinkan mereka untuk memainkan peran sebagai kekuatan global dengan kehadiran markas-markas di berbagai negara. Terbaru, Angkatan Udara AS (USAF) sedang mengembangkan program pengujian sistem roket pembawa kargo melalui proyek Rocket Cargo Vanguard. Dua platform pendaratan akan dibangun di Pulau Johnston, dekat Hawaii, sebagai bagian dari uji coba ini. Tujuannya adalah untuk menguji kemampuan sistem roket dalam mengirimkan kargo ke lokasi mana pun di Bumi hanya dalam waktu satu jam, dengan memanfaatkan pesawat luar angkasa Starship milik SpaceX. SpaceX sendiri telah menerima kontrak senilai $102 juta pada tahun 2022 untuk mewujudkan visi ini. Starship dirancang untuk berbagai tujuan, mulai dari mengirim astronaut ke bulan dan Mars, hingga memfasilitasi transportasi penumpang ultra-cepat.
Masalah logistik yang dihadapi militer, seperti dalam situasi konflik di Asia, menuntut solusi pengiriman cepat yang bisa menghemat waktu. Pengiriman dengan pesawat kargo konvensional terkadang memerlukan waktu berhari-hari, sementara pengujian sistem roket ini diharapkan dapat mengatasi keterlambatan tersebut. Program ini bukanlah yang pertama, karena konsep pengiriman kargo dengan roket telah dibahas selama lebih dari lima dekade. Setelah platform di Pulau Johnston selesai dibangun, roket kargo akan diuji di fasilitas tersebut untuk menilai kelayakan penggunaannya dalam situasi dunia nyata.
USAF berencana untuk menggunakan Starship, yang telah dimodifikasi untuk pengangkutan kargo, menggantikan sistem kargo konvensional yang ada. Dengan kapasitas kargo yang diperkirakan mencapai 82 ton—setara dengan pesawat Boeing C-17 Globemaster III—roket ini diharapkan dapat meningkatkan efisiensi pengiriman dalam situasi darurat. SpaceX kini mengincar peran penting dalam memenuhi kebutuhan logistik militer AS dengan memanfaatkan teknologi mutakhir mereka.